INDOSPORT - Terselip tiga fakta menarik usaiArsenal disingkirkan oleh Vilarreall di leg kedua babak semifinal Liga Europa 2020-2021.

Arsenal disingkirkan Villarreal di semifinal Liga Europa 2020-2021 usai main imbang 0-0 di leg kedua. Menjamu tamunya di leg kedua semifinal, Arsenal sebetulnya hanya membutuhkan kemenangan 1-0 di kandang, namun misi itu rupanya lebih sulit dari yang dibayangkan.

Guna menyingkirkan Villarreal yang dibesut pendahulunya, Unai Emery, manajer Mikel Arteta menurunkan formasi agresif dengan Pierre-Emerick Aubameyang sebagai ujung tombak, didukung kuartet Bukayo Saka, Martin Odegaard, Emile Smith-Rowe, dan Nicolas Pepe.

Meski demikian, Meriam London justru tampil buruk dan kesulitan menembus lini belakang Kapal Selam Kuning. Peluang terbaik mereka adalah ketika dua upaya Pierre-Emerick Aubameyang membentur tiang gawang.

Hingga akhir laga, Arsenal tak mampu menjebol Geronimo Rulli. Laga pun berakhir dengan skor kacamata 0-0 dan The Gunners gagal ke final Liga Europa karena kalah agregat 1-2.

Hasil ini terbilang memalukan lantaran Arsenal diunggulkan di laga ini. Dalam laga antara Arsenal vs Villarreal terselip empat fakta menarik yang sayang untuk Anda lewatkan.

1. Rekor Final Terhenti

Kekalahan yang diterima Arsenal dari Villarreal  membuat mereka untuk pertama kalinya gagal menembus partai final kompetisi besar dalam lima tahun terakhir.

Sebelum tersingkir di semifinal Liga Europa musim ini, Arsenal tercatat sukses menembus empat partai final selama lima musim beruntun. Arsenal berturut-turut lolos ke final  Piala FA (2016/17), Piala Liga (2017/18), Liga Europa (2018/19), dan Piala FA (2019/20).

Arsenal harus rela mengakhiri musim ini dengan tanpa satu pun trofi. Posisi pelatih Mikel Arteta pun dalam tekanan di akhir musim ini.

1. 2. Penyesalan Aubameyang

Pierre-Emerick Aubameyang tampak kecewa usai mencetak gol bunuh diri di laga Arsenal vs Burnley

Hasil minor yang diraih saat menjamu Villarreal membuat bomber Arsenal, Pierre Emerick-Aubameyang dalam tekanan. Sebab, bomber asal Gabon itu memegang tanggung jawab terbesar untuk membantu Arsenal mencetak gol.

The Gunners sendiri mampu menciptakan sejumlah peluang berbahaya, terutama di babak pertama. Namun, tak ada satu pun gol yang tercipta.

Akan tetapi, keputusan berani diambil oleh Arteta. Pelatih asal Spanyol itu memutuskan untuk menarik keluar Pierre Emerick-Aubameyang di pertengahan babak kedua.

Padahal, timnya saat itu tengah setengah mati berusaha mencari gol. Arsenal hanya butuh kemenangan 1-0 untuk bisa lolos ke babak final lewat produktivitas gol tandang.

Keputusan Arteta ini pun mendapat kecaman dari para fans. Fans The Gunners menyesalkan ditariknya Aubameyang keluar lapangan.

3. Dominan di 2 Laga

Disingkirkannya Arsenal dari Vilarreall di Liga Europa terbilang cukup tragis. Sebab, dari dua leg, Arsenal selalu tampil dominan.

Pada pertemuan pertama di markas Vilarreall, Arsenal memegang penguasaan bola sampai 53 persen. Pada pertemuan berikutnya di markas Arsenal, skuad asuhan Mikel Arteta memegang penguasaan bola sampai 56 persen.

Mereka juga sanggup melepaskan 14 tembakan atau enam kali lebih banyak daripada Villarreal. Sayang, segala upaya itu tidak membuahkan hasil, Arsenal harus tersingkir di tangan The Yellow Submarine di Liga Europa.