UNIKOLOGI.COM, Palembang: Pelaksanaan PTQN RRI ke-51 di Palembang, Sumatera Selatan menerapkan sistem yang berbeda untuk penilaian lomba Tilawah. Masing-masing peserta memiliki pengalaman yang berbeda saat tampil dengan sistem penilaian aplikasi E Maqro yang baru digunakan untuk PTQ RRI.

Hamaddaif (18), salah seorang kafilah asal RRI Pontianak, mengaku tidak mudah untuk menyesuaikan dengan sistem penilaian yang diterapkan, terlebih ini merupakan pegalaman pertamanya mengikuti lomba tilawah ditingkat nasional.

“Dalam segi waktu memang agak cepat. Sebelum saya baca ayat selanjutnya lampu merah sudah menyala, apalagi ayat yang saya bawakan itu wau, kaf dan lam-nya banyak, jadi memang agak susah,” ujar mahasiswa IAIN Pontianak jurusan Alquran dan Tafsir yang duduk di semester empat ini, saat dibincangi RRI usai tampil di Auditorium RRI Palembang, Minggu (2/5/2021).

Daif membacakan Surat Al Mu’minun ayat 51 pada babak penyisihan. Putra ketiga dari empat bersaudara ini mengaku sudah tampil maksimal meski tampil di bulan puasa memiliki tantangan tersendiri.

“Saat berpuasa nafas jadi lebih pendek, itu tantangan terberatnya,” beber Daif.

Sementara itu, pengalaman berbeda justru dirasakan Suhada, perwakilan RRI Sumenep. Wanita berusia 24 tahun ini sudah beberapa kali mengikuti lomba Tilawah sehingga penilaian dengan aplikasi Maqro buka hal yang baru baginya.

“Untuk PTQ RRI ini pengalaman pertama saya maju ketingkat nasional, tapi untuk lomba PTQ lainnya saya sudah beberapa kali ikut dan juara,” cetus Suhada.

Untuk menjaga kualitas vokalnya, Suhada mengaku tidak memiliki pantangan soal makanan. Baginya, latihan yang rutin merupakan kunci dalam mempersiapkan diri sebelum tampil di atas pentas.

“Sehari sebelum tampil itu saya latihan membaca ayat bisa seharian dari pagi sampai malam, hanya saja suaranya lebih pelan,” tuturnya.

Direktur Penerangan Agama Islam Kementerian Agama RI, Dr H Ahmad Juraidi MA, mengungkapkan, PTQ RRI tahun ini mengadopsi sistem penilaian modern LPTQ Nasional Kementerian Agama dengan menggunakan aplikasi E Maqro untuk dua dari tiga nomor lomba yang dipertandingkan.

Perubahan teknis dimulai dari mekanisme pendaftaran. Perubahan terjadi paling banyak pada Lomba Tahfidz dan Tilawah yang sebagian besar menggunakan aplikasi E Maqro.

Juraidi mengatakan, penggunaan aplikasi dalam penilaian ini akan membuat penilaian lebih obyektif dan transparan.

“Aplikasi ini menjawab berbagai persoalan seperti ada tuduhan soal yang bocor, dengan aplikasi ini dijamin soal tidak akan bocor karena soal akan diambil secara acak dari aplikasi,” kata Juraidi.