Cerita Warga Tulungagung Berpuasa di Luar Negeri (2)
Puasa tahun ini terasa berbeda bagi Demas Satrio Yumananta. Mahasiswa strata dua (S-2) di Clausthal University of Technology ini tak bisa menjalankan rutinitas

Puasa tahun ini terasa berbeda bagi Demas Satrio Yumananta. Mahasiswa strata dua (S-2) di Clausthal University of Technology ini tak bisa menjalankan rutinitas setiap tahun sebagai umat Islam secara semarak. Lantaran Jerman masih menerapkan lockdown.

Niedersachsen-Jerman

Perjalanan panjang dan penuh perjuangan ditempuh Demas Satrio Yumananta untuk menginjak Jerman. Dimulai 8 tahun lalu sebelum lulus SMA, dirinya sudah mempersiapkan diri untuk belajar bahasa negara itu.

Di saat lulus SMA ikut program akselerasi selama dua tahun, lalu memberanikan diri kuliah ke luar negeri.

Ketika berada di Jerman pun masih belajar bahasa sebagai persyaratan masuk ke perguruan tinggi. Hampir 6 bulan untuk bisa menguasi bahasa negara setempat hingga dapat lisensi kompetensi atau B2.

Usai mendapatkan lisensi, Dimas memilih home stay atau ikut orang tua asuh agar bisa adapatasi di negara tersebut. “Enam bulan ikut home stay, kemudian tinggal di apartemen sendiri,” ungkap mahasiswa jurusan petroleum engineering ini.

Jarak apartemen dan kampusnya sekitar 5 menit. Sehingga mudah ditempuh dengan sepeda angin. Rutinitas tersebut dilakoninya hingga lulus S-1.

Di Jerman, sistem pendidikan begitu simpel dan semua gratis hingga perguruan tinggi. Mahasiswa bisa mengambil mata kuliah semester atas jika ada waktu dan mampu. Jadi sudah biasa S-1 ditempuh dengan waktu dua tahun.

Kini dirinya sedang menempuh S-2 di kampus yang sama. Namun karena masih pandemi, sebagian besar pembelajaran menggunakan sistem online.

Begitu pula dengan pekerjaan, sebagian besar memilih berhenti sementara. Lantaran jika ada satu karyawan positif terpapar korana, akan ada swab masal dan libur hingga satu minggu. “ Di sini begitu ketat. Ada satu terpapar akan di-tracing semua dan sebagian besar beraktivitas di rumah sebelum kondisi normal. Saya berhenti bekerja sementara,” terang alumni SMAN 1 Boyolangu ini.

Jika warga asli Jerman, kata dia, saat berhenti bekerja akan mendapatkan subsidi dari pemerintah setempat sekitar 500 Uero atau sekitar Rp 8,5 juta tiap bulan. Jumlah tersebut merupakan kebutuhan standar di negara setempat.

Bagi Dimas, di saat tidak bekerja sementara ini hanya mengandalkan uang tabungan dari hasil bekerja selama ini.

Beruntung, mahasiswa di Jerman saat masih kondisi normal lebih mudah untuk mencari kerja baik part time maupun full time asalkan sesuai dengan kompetensi dimiliki.

Dia pernah bekerja di perusahaan garmen maupun mobil BMW dan Audi. Besaran gaji pun berbeda tergantung dari grade pabrik. Bahkan, dirinya bisa mengantongi Rp 100 juta tiap bulan ketika kondisi normal saat bekerja di pabrikan mobil terkenal itu. Artinya, masih banyak sisa tabungan jika dibandingkan dengan kebutuhan biaya hidup. “Saat nganggur ini belajar trading daripada tidak ada kegiatan,” terangnya.

Apalagi kini sedang puasa. Jadi dengan tidak banyak beraktivitas bisa lebih ringan. Di saat musim panas sekarang ini, lama waktu menahan lapar dan haus bisa mencapai 18 jam. Sahur pukul 03.00 buka puasa pukul 21.00. Azan dan tempat ibadah ditutup total. Sehingga untuk menandakan buka puasa ini mengandalkan selebaran jadwal salat dari para komunitas muslim yang sebagian besar dari Turki maupun negara-negara Timur Tengah.

Jika memaksakan berkumpul untuk ibadah, akan mendapatkan peringatan hingga dipenjara karena melanggar protokol kesehatan (prokes). “Di masjid sekitar bisa menampung ratusan jamaah dan sering ada pengajian serta berkumpulan dengan orang muslim lainnya. Namun kini saat pandemi tidak dipakai,” ungkapnya.

Meski demikian, terkadang tetap menggelar salat tarawih berjamaah khusus orang Indonesia, dengan mengatur jadwal dan tempat lebih privat agar tidak diketahui petugas keamanan setempat. Jumlah jamaah pun tidak banyak, hanya puluhan.

Untuk urusan makan tidak ada kendala. Sebab, produk online sudah banyak tersedia. “Alhamdulillah di sini mudah untuk membeli bahan-bahan makan secara online dan halal. Ada banyak toko Asia,” tandasnya. (*)