Dongkrak Perekonomian Syariah, BI Jateng Helat Talkshow Bisma 2

The post Dongkrak Perekonomian Syariah, BI Jateng Helat Talkshow Bisma 2 appeared first on RADARSEMARANG.ID.

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Potensi perekonomian syariah atau halal di Jateng maupun Indonesia sangat besar dan luar biasa. Namun tak semua masyarakat paham tentang halal value chain (HVC). Karena itu, jangan sampai Indonesia menjadi pengimpor produk halal, harus jadi pengekspor.

Hal tersebut terungkap dalam acara talkshow Bank Indonesia Bersinergi Majukan Daerah (Bisma) Volume 2 dengan tema Penguatan Ekosistem Halal untuk Mendukung Pemulihan Ekonomi Nasional, yang dilaksanakan di Atrium Pollux Mall Paragon, Sabtu (1/5) kemarin. Dalam talkshow tersebut menghadirkan Deputi Kantor Perwakilan (KPw) BI Jateng M Firdaus Muttaqin, Kepala Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Jateng Sinoeng N Rahmadi, Ketua Satgas Layanan Sertifikat Halal Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal  (BPJPH) Khotibul Umam, dan Ketua I Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Jateng Nyata Nugraha.

Menurut Firdaus, HVC merupakan sebuah ekosistem atau rantai pasok halal dari industri hulu sampai hilir. Termasuk di bidang pariwisata yang memiliki multiplier effect. “Melihat potensi perekonomian syariah yang luar biasa, Bank Indonesia dan pemangku kepentingan lainnya, secara masif melakukan edukasi kepada masyarakat. Termasuk dengan melakukan festival ekonomi syariah,” kata Firdaus dalam kesempatan tersebut.

Dia tegaskan, BI menyadari butuh kerja ekstra untuk melakukan pengembangan ekonomi syariah. Sebab, meski potensinya luar biasa, namun hingga kini porsi pembiayaan syariah terhadap perekonomian masih sangat rendah. Hanya sebesar 5,12 persen dibandingkan produk konvensional lainnya.

“Hal ini karena belum optimalnya pemanfaatan dana zakat, infaq, sadaqah, dan wakaf. Artinya masih banyak dana yang punya potensi cukup besar, namun belum disalurkan ke hal-hal yang bersifat produktif,” jelasnya.

Bahkan, hasil survei indeks literasi ekonomi syariah pada 2019 yang meliputi 13 provinsi, empat provinsi di pulau Jawa dan 9 provinsi di luar pulau Jawa, hasilnya hanya 16,3 persen penduduk Indonesia yang memahami ekonomi syariah secara baik. “Kini upaya menggarap perekonomian syariah, harus berhadapan dengan pandemi Covid-19 pada 2020. Kinerja ekonomi, baik di sektor konsumsi, investasi, dan perdagangan luar negeri menurun sangat besar. Termasuk perekonomian dan keuangan syariah turut terdampak pandemi,” tegasnya.

Bahkan akibat pandemi, sektor pertanian, makanan halal, fashion muslim, pariwisata ramah muslim, maupun kinerja ekonomi keuangan syariah pada 2020 secara umum tidak lebih baik dari kinerja PDB nasional. Ekonomi syariah terkontraksi -1,72 persen. PDB nasional juga terkontraksi -2,07 persen.

“Hasilnya pangsa aktivitas usaha syariah terhadap perekonomian nasional tak meningkat tinggi. Dari 24,3 persen pada tahun 2016, hanya mampu membukukan 24,86 persen di 2020. Artinya tak terjadi peningkatan cukup tinggi pada pandemi ini,” katanya.

Kendati begitu, BI mendorong pengembangan Syariah Value Chain. Ini karena potensi keuangan syariah negeri ini sangat besar. Selain jumlah penduduk muslim dunia yang terus bertambah, dan 12 persennya penduduk muslim ada di Indonesia. Bahkan, Indonesia memiliki 4000-5000 pesantren dengan 500 ribu santri. Selain itu, permintaan produk halal bagi penduduk muslim dan non muslim sangat tinggi. “Ini karena produk halal memiliki tingkat kualitas yang bagus dan kebersihan yang bagus. Sehingga menarik minat penduduk muslim maupun non muslim,” tandasnya.

Indonesia juga masuk top ten player Islamic finance. Memiliki potensi luar biasa di bidang halal travel dan fashion muslim. Indonesia pasar terbesar industri makanan halal. “Karena itu, perlu penguatan dari sisi kelembagaan, baik itu Majelis Ulama Indonesia (MUI), pesantren, maupun lembaga pembiayaan. Kemudian penguatan halal value chain, seperti pertanian, perikanan, fashion halal, maupun pariwisata yang ramah muslim. Serta sarana dan prasarana pendukung, baik berupa pasar offline dan online,” urainya.

Bahkan, Korea saat ini telah mengembangkan pariwisata halal, untuk memfasilitasi wisatawan muslim dunia. Inggris dan Malaysia juga mengusung finasial syariah. “Jangan sampai Indonesia jadi pengimpor produk halal, Indonesia harus menjadi pengekspor produk halal,” tegasnya. (ida/adv)

The post Dongkrak Perekonomian Syariah, BI Jateng Helat Talkshow Bisma 2 appeared first on RADARSEMARANG.ID.