Doni Berdayakan Anak-anak Gang Angket Lewat Gerakan 'Sekitar Pendidikan'
Anak-anak Gang Angket sedang bermain catur. Foto: Dok. Pribadi

SIAPGRAK.COM - Doni Chairullah, seorang pria berusia 24 tahun yang tinggal di daerah Pontianak Timur membuat suatu gerakan pendidikan non formal yakni ‘Sekitar Pendidikan’ untuk anak-anak di Jalan Tritura, Gang Angket.

Kepada SIAPGRAK.COM, Doni mengatakan, gerakan tersebut dibuat sejak tahun 2020 dengan tujuan untuk membangun lingkungan yang tumbuh dengan baik.

“Saya hidup dan tumbuh dalam suasana lingkungan tinggi kriminalitas dan perdagangan narkoba. Saya berpikir untuk menyelamatkan anak-anak yang tinggal di lingkungan sekitar rumah saya, yang semakin hari semakin terbiasa melihat kriminalitas dan perdagangan narkoba,” jelasnya, Jumat, 7 Mei 2021.

Sebelum Sekitar Pendidikan lahir, Doni mengatakan, ia telah lebih dulu mendirikan ‘Sekitar Projek’. Kegiatan ‘Sekitar Projek’ fokus memberdayakan anak muda untuk berani berkarya melalui handphone-nya.

Doni Berdayakan Anak-anak Gang Angket Lewat Gerakan 'Sekitar Pendidikan' (1)
Doni membuat gerakan 'Sekitar Pendidikan' untuk anak-anak di Gang Angket. Foto: Dok. Pribadi

“Kami juga memproduksi film dokumenter tentang isu-isu orang yang terpinggirkan, termarginalkan atau yang mendapatkan stigma negatif, untuk mendapatkan haknya. Kami memproduksinya di platform sekitar-tv,” ucapnya.

Doni mengatakan, dari jiwa sosialnya, ia ingin menberdayakan semangat anak-anak termarginalkan untuk dapat berkembang dengan bekal soft skill, serta wawasan, dan cara berpikir yang baik.

“Jika ditracking, banyak orang-orang di dalam lingkungan ini (Gang Angket) ditolak pekerjaan, ditolak kredit motor, dan lainnya. Alasannya karena generalisasi mereka bagian dari masyarakat ini. Termasuk saya juga mengalaminya. Kemudian tercetuslah ide ‘Sekitar Pendidikan’ di bulan Agustus 2020. Dengan spirit yang sama untuk memberdayakan anak-anak yang di lokasi termarginalkan, dengan pembekalan soft skill. Lalu ditambah dengan wawasan profesi, dan critical thinking,” paparnya.

Ia mengajar sebanyak kurang lebih 20 anak-anak di sekitar lokasi dengan 3 isu, yakni soft skill, wawasan profesi, dan critical thinking. Doni berharap agar anak-anak marginal tersebut dapat tumbuh dengan bekal keterampilan sejak dini untuk dijadikan modal sebagai profesi mendatang.

Doni Berdayakan Anak-anak Gang Angket Lewat Gerakan 'Sekitar Pendidikan' (2)
Anak-anak Gang Angket senang mengikuti kegiatan 'Sekitar Pendidikan'. Foto: Dok. Pribadi

“Berpikir kritis kami linearkan agar mereka dapat mengambil suatu pilihan secara sadar, sesuai masalah apa yang harus diselesaikan di lingkungannya. Sedangkan wawasan profesi adalah upaya kami mengenalkan profesi-profesi yang beragam kepada mereka,” ungkapnya.

Doni berharap, 20 anak tersebut dapat menjadi kader yang dapat menghilangkan stigma negatif dari lingkungan luar daerahnya. Gerakan belajar non formal tersebut dilakukan secara gratis atau tanpa dipungut biaya sepeserpun.

Tempat belajarnya pun, digelar di belakang rumah Doni, Jalan Tritura, Gang Angket, Pontianak Timur. Ia biasanya dibantu dengan beberapa volunteer dan beberapa teman yang bisa mengajarkan anak-anak tersebut dalam beberapa skill, mulai dari belajar forografi, desain fashion, public speaking, dan lain sebagainya.

Soft skill sendiri kalau buat video dan foto itu masih saya yang ngajar, karena background saya di bidang itu. Kalau public speaking ada dari teman saya yang merupakan seorang Duta. Kalau wawasan profesi juga teman-teman jaringan yang sayang punya, mereka yang bekerja di bidang tersebut,” imbuhnya.

Doni Berdayakan Anak-anak Gang Angket Lewat Gerakan 'Sekitar Pendidikan' (3)
Anak-anak Gang Angket mengikuti 'Sekitar Pendidikan' yang digagas Doni. Foto: Dok. Pribadi

Pria yang kuliah di kampus IAIN Pontianak tersebut mengatakan, anak-anak yang ia berikan edukasi tersebut mulai dari usia 6 hingga 10 tahun, atau mereka yang sedang duduk di bangku Sekolah Dasar (SD).

Doni juga mengatakan, orang tua dari anak-anak tersebut menyambutnya dengan senang karena melihat anaknya memiliki perkembangan dalam pembelajaran.

“Orang tua mereka senang, karena lihat anak mereka ada perkembangan seperti bisa bahasa Inggris, lebih kritis, dan senang membaca. Sesungguhnya mereka menaruh harapan yang sangat besar untuk anaknya bisa tumbuh dan tidak terpengaruh di lingkungan yang rawan,” pungkasnya.