Guru Tangguh Berhati Cahaya
Seorang guru yang hebat tentunya harus memiliki keunggulan tertentu, baik dalam mengajar maupun hubungan dengan peserta didik, anggota komunitas sekolah serta

AWAN tebal dan hitam menggantung di bumi pertiwi. Tetapi percayalah dibalik awan masih ada matahari yang bersembunyi. Kapan hujan akan turun dan udara menjadi bersih, niat kuat, berusaha dan berdoa dengan sungguh-sungguh.

Pendidikan merupakan proses pembelajaran bagi anak didik untuk dapat mengerti, paham, dan membuat manusia lebih kritis dalam berpikir. Dengan pendidikan karakter manusia sebagai individu dapat dibentuk dan diarahkan sesuai tuntutan ideal bagi proses pembangunan.

Pembangunan nasional dalam bidang pendidikan merupakan upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dan meningkatkan kualitas manusia Indonesia yang beriman, bertakwa dan berakhlak mulia serta menguasai ilmu pengetahuan, teknologi dan seni dalam menuju masyarakat yang maju, adil, makmur dan beradab berdasar Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Guru mempunyai peran dan kedudukan yang sangat strategis dalam pembangunan nasional khususnya dalam bidang pendidikan.

Bapak Pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara dengan semboyan “Ing ngarso sung tuladha, Ing madya mangun karsa, Tut wuri handayani”. Artinya di depan memberi contoh, di tengah membangun semangat, di belakang memberi motivasi. Tanggal 2 Mei merupakan kelahiran Ki Hajar Dewantara, untuk menghormati jasa-jasanya terhadap dunia pendidikan, Pemerintah menetapkan sebagai Hari Pendidikan Nasional.

Guru memegang peran penting dalam pendidikan, dari guru yang nanti akan terlahir banyak profesi. Semua belajar dari guru, namun apakah semua guru mempunyai peran yang sama dalam mengantarkan anak didiknya menuju gerbang kesuksesan?

Terlepas dari sebagian nasib guru yang hidupnya masih belum layak, seorang guru punya tanggung jawab besar terhadap proses berlangsungnya transfer ilmu pengetahuan. Ada beberapa hal yang bisa diteladani dari seorang Ki Hajar Dewantara, untuk menjadi seorang guru yang profesional dan ideal:

Pertama, berani melakukan perubahan. Seorang guru harus selalu belajar untuk memperbaiki diri dengan ilmu pengetahuan apalagi di masa pandemi ini. Guru harus mampu memasukkan inspirasi dengan meningkatkan kompetensi. Guru harus berani melakukan ATM. Apa ATM itu? ATM adalah amati, tiru, modifikasi. Jadi jangan malu untuk meniru yang baik dari seseorang. Jangan lupa untuk memodifikasi untuk menjadi baik sesuai di mana kita terapkan.

Kedua, berperan sebagai Penggerak dan Pendidik. Sosok Ki Hajar Dewantara telah mengisyaratkan posisi itu melalui petuahnya dalam bahasa Sansekerta. Guru bukan hanya sekadar mengajarkan keilmuan tertentu, tapi juga harus dapat menjadi instrumen perekat kebangsaan, nasionalis, cinta tanah air, nilai religius dan spiritual. Selain itu guru juga harus menjadi teladan bagi siswa. Nilai esensial yang harus tertanam pada seorang guru di Indonesia adalah berpikir, berzikir, beramal saleh serta mengabdi pada masyarakat. Kepantasan untuk diteladani, digugu, dan ditiru, layak untuk diteladani. Salah satunya dengan bersikap jujur, tepati janji dan berkomitmen.

Ketiga, rendah hati dan bijaksana. Semboyan Ki Hajar Dewantara “Ing ngarso sung tuladha, Ing madyo mangun karso, Tut wuri handayani”. Apabila hakikat dari semboyan tersebut benar-benar diimplementasikan dengan baik dan benar oleh setiap guru Indonesia maka akan memberikan dampak positif pada diri seorang guru dan generasi bangsa yang akan datang. Apalagi dalam kurikulum 2013 juga dituntut untuk membentuk siswa yang salah satu kompetensi intinya dapat menghargai dan menghayati perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli terhadap sesama dan lingkungan, santun percaya diri dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial. Oleh karena itu apabila guru memberikan contoh yang baik dan benar maka perilaku siswa akan menjadi baik juga, bahkan mereka bisa lebih baik. Dengan kata lain guru merupakan panutan siswanya maka guru harus memiliki akhlak yang luhur.

Keempat, dapat menjadikan suasana belajar seperti taman bermain. Dengan metode Asih, Asah dan Asuh. Asih adalah mengasihi anak secara psikis agar terbentuk karakter atau jiwa yang saling menyayangi terhadap sesama. Asah adalah menajamkan intelektual atau pola pikir anak agar menjadi manusia yang cerdas dan pintar secara intelektual. Asuh adalah merawat anak secara fisik agar sehat dan kuat jasmani.

Seorang guru yang hebat tentunya harus memiliki keunggulan tertentu, baik dalam mengajar maupun hubungan dengan peserta didik, anggota komunitas sekolah serta pihak lain seperti dengan orang tua dan komite. Seorang guru juga harus mempunyai sikap profesionalitas yang tinggi yaitu keinginan untuk memperbaiki diri dan mengikuti perkembangan zaman sehingga penting bagi seorang guru untuk membangun etos kerja yang positif, menjunjung tinggi pekerjaan, menjaga diri dalam melaksanakan pekerjaan dan keinginan untuk melayani masyarakat. Lebih jauh lagi guru juga harus memperhatikan penampilannya baik secara fisik, intelektual, relasi sosial, kepribadian dan kerohanian sehingga dapat menjadi motivator bagi anak didiknya.

Kekuatan doa adalah sebuah kekuatan impian yang diwujudkan dalam perilaku. Orang hebat adalah orang yang bisa membentuk orang hebat. Dari mulut seorang guru akan keluar doa-doa yang terbaik untuk muridnya, maka jadilah guru hebat yang mendidik dan menginspirasi. Seorang guru harus selalu belajar untuk memperbaiki diri dengan ilmu pengetahuan apalagi dalam masa pandemi. Guru harus mampu memasukkan inspirasi dengan meningkatkan kompetensi yang baik secara up to date atau kekinian.

Dengan semangat peringatan Hari Pendidikan Nasional ini semoga dapat membantu untuk mewujudkan cita-cita Bangsa dan Negara, terutama dalam dunia pendidikan. Yaitu dapat menumbuhkan dan mengembangkan siswa yang berakhlak mulia dan sebagai guru, kita dapat menjadi guru yang benar-benar ikhlas mendidik para siswa kita. (*)

*) Guru MTsN 1 Banyuwangi.