Sebagai seorang subjek dalam pemotretan, perempuan model selalu menjalankan perannya dengan kewajiban mengerahkan seluruh kemampuan yang dimilikinya secara total.

Ini mereka mulai dari kemampuan mereka dalam berpose, berekspresi, sampai gerakan tubuh lentur di depan kamera untuk memujudkan suatu gambar yang sesuai dengan kehendak fotografer atau pengambil gambar.

Namun herannya, yang sering menjadi perbincangan meluas bukanlah kerja keras si perempuan model, tapi yang lebih deras diperbincangkan adalah soal lekuk tubuhnya, sensasi di wajahnya dan bagaimana kehidupan personal si model perempuan.

“Siapa pacarnya?”

“Sudah cerai belum?”

“Kemarin putus dia ya?”

Sepertinya kita sudah sering mendengarkan pembicaraan tentang hal-hal yang gak seru itu: tubuh foto model yang seksi, gaya yang dianggap sensual. Namun orang jarang ngomong soal kerja keras yang dilakukan para model perempuan

Saya yakin ini karena masyarakat sering dicekoki dengan informasi: jika bicara tentang model perempuan, ya yang dibicarakan fisiknya dong, karena kehidupan model kan tak pernah lepas dari fisiknya?

Tentu masyarakat yang seperti ini tak sendirian, ada media yang kemudian menyuburkan keyakinan gak seru dari masyarakat ini. Media juga sering serampangan menilainya.

Sangat menyedihkan melihat posisi perempuan seringkali ditempatkan sebagai pelengkap dunia laki-laki dan keindahan perempuan hanya dijadikan sebagai objek seksual di media

Objektifikasi di media ini terjadi ketika perempuan melalui sarana-sarana sosial seperti media malah direndahkan derajatnya, dijadikan benda atau komoditas, dibeli atau dijual. Memperlakukan seseorang layaknya barang tanpa mempertimbangkan martabat mereka menjadikan hal ini sebagai perkara atau pokok pikiran, sasaran, tujuan, pelengkap atau tujuan menjadikan orang lain menderita

Tapi mengapa perempuan? Sebab, sampai saat ini tubuh perempuan dianggap sangat menarik dari ujung rambut hingga ujung kaki oleh media. Para feminis mengkritik pernyataan tersebut yang mengatakan bahwa dalam dunia media massa, keindahan perempuan dan kekaguman lelaki terhadap perempuan merupakan sebuah kesatuan yang utuh dimana dengan modal kecantikan perempuan akan menjadi bahan inspirasi yang tidak ada habisnya bagi pekerjaan seni

Banyaknya media massa ini kemudian juga menempatkan perempuan dalamstereotype tentang harus selalu tampil cantik dan seksi untuk dapat memikat lawan jenisnya. Ini yang berbahaya karena perempuan seharusnya menjadi subjek, malah jadi objek

Ini juga mengindikasikan bahwa perempuan adalah pihak inferior sedangkan laki-laki ada di posisi superior. Kondisi ini sangat berbenturan dengan apa yang tertuang dalam pasal 5 (a) UU Nomor 7 Tahun 1984 tentang Konvensi CEDAW atau Konvensi Pengesahan Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap perempuan disebutkan tentang mengubah pola tingkah laku sosial budaya laki-laki dan perempuan dengan maksud untuk mencapai penghapusan-penghapusan prasangka dan kebiasaan dan segala praktek lainnya yang berdasarkan atas inferioritas atau superioritas salah satu jenis kelamin atau berdasar peranan stereotip bagi laki-laki dan perempuan

Objektivikasi tubuh perempuan yang dipercayai media ini kemudian menyebar luas di masyarakat dalam berbagai bentuk dan dapat diperoleh dengan mudahnya dalam berbagai jenis media. Tentu tak semua media seperti ini, namun banyak sekali media yang tumbuh subur yang terus-menerus menjadikan tubuh perempuan sebagai objek, mencari klik, mencari pencapaian rating dan share tertinggi

Perempuan juga dianggap sebagai representasi yang memiliki daya tarik seksual dengan tubuh yang tinggi, yang langsing, putih, dan memiliki dada besar.

Setiap bagian halaman sebuah majalah yang saya amati bahkan ada yang kerap menampilkan gambar atau foto perempuan dengan pakaian yang sangat minim, tak jarang juga model-model perempuan harus bergaya sensasional, provokatif yang merujuk pada posisi perempuan sebagai objek hasrat seksual bagi pembaca laki-laki.

Dengan alasan memberikan hiburan, maka semakin banyak media, termasuk majalah dewasa yang kemudian mengeksploitasi tubuh perempuan dan menjadikannya sebagai ajang bisnis untuk mengeruk keuntungan besar tanpa memikirkan tanggung jawab  sosial. Bagian pentingnya hanyalah bagaimana agar laki-laki tertarik untuk membaca media tersebut dan mirisnya perempuan akan berada di posisi marjinal yang hanya dapat mengikuti sudut pandang bentukan laki-laki.

Maka, ini yang kemudian membuat image perempuan yang ditampilkan telah dikonstruksi sedemikian rupa agar sesuai dengan tatapan laki-laki dan dapat memberikan kepuasan seksual yang berpusat pada pembaca laki-laki, termasuk pendefinisian seksualitas perempuan yang ada dalam media dan kepala laki-laki.

Kamera akan terfokus pada bagian lekukan dari tubuh perempuan yang memiliki sexual attraction lelaki. Dan laki-laki bisa membentuk atau mengatur media agar memperlihatkan perempuan dengan cara yang diinginkan laki-laki. Sehingga laki-laki bisa menimbulkan kepuasan dalam memandang atau scopophilia yang biasanya dipahami sebagai sesuatu kenikmatan erotis yang diperoleh atas apa yang dilihatnya dalam media, yaitu foto atau gambar tubuh

Artinya, ketika laki-laki mendapatkan kenikmatan dari pandangan tersebut, maka laki-laki menjadi pihak yang aktif, sedangkan perempuan sebagai pihak yang pasif sebab ia hanya menjadi objek seksual dari pandangan laki-laki yang melihatnya.

Selain scopophilia, fragmentasi juga turut hadir dalam media. Fragmentasi merupakan suatu kondisi dimana kamera menyorot bagian tubuh tertentu yang dianggap menarik dari sebuah perempuan bagi laki-laki. Contohnya seperti pada gambar dimana dalam satu frame diambil dengan background polos, seolah membuat sang model terkesan menonjol dan mendominasi semua halaman dengan memperlihatkan tubuh model yakni dada, lengan, perut dan kaki, agar orang-orang tentu akan fokus pada bagian tertentu. Ini semakin memperteguh bahwa perempuan hanyalah dijadikan objek seksualitas yang dinikmati oleh laki-laki.

Memang di dunia industri, secara materi memang memenuhi kebutuhan laki-laki, tapi bagaimana secara perspektif? Tidak sama sekali. Foto-foto itu akan menjadi referensi dalam mengkonstruksi performa seksualitas perempuan; bagaimana seharusnya perempuan terlihat dalam dunia laki-laki. Licik dan menindas.

Lalu, gagasan apa yang tepat untuk menghentikan sensasionalisme tubuh perempuan dalam media massa? Pada dasarnya, media merupakan cermin dan refleksi dari kondisi sosial budaya masyarakat. Harus diakui, di Indonesia sistem patriartki sangat kuat, sulit bagi wartawan maupun media yang mengutamakan pasar untuk punya perspektif. Setiap wartawan dan medianya, selalu memiliki latar belakang, gender, seksualitas yang mempengaruhi cara berpikir, bertindak dan memilih informasi untuk dilaporkan dan ditulis.

Namun, mengingat media massa penting untuk ikut mengubah opini di masyarakat karena kemampuannya membentuk realitas dengan daya jangkau amat luas, maka melahirkan visi dan orientasi kebijakan redaksional yang dapat mengubah masyarakat dalam tatanan baru adalah jawabannya, masyarakat harus bisa memandang kedudukan laki-laki dan perempuan adalah setara melalui media.

Jadi stop menjadikan perempuan sebagai objek sensasional!

(Foto/ ilustrasi: Pixabay)