Indonesia Memanggil: Seleksi Super Ketat Menjadi Pegawai KPK, Jauh Sebelum TWK
Ilustrasi KPK. Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan

KPK sedang menjadi sorotan dengan adanya Tes Wawasan Kebangsaan sebagai proses alih status pegawai menjadi ASN. Alih status itu merupakan buntut dari revisi UU KPK.

Tes Wawasan Kebangsaan (TWK) itu membuat 75 pegawai KPK dinyatakan tidak lulus menjadi PNS. Nasib mereka pun belum jelas dan bahkan sempat beredar kabar akan dipecat. Hal itu dibantah KPK.

Isi TWK pun tak lepas dari sorotan. Sebab, dinilai ada pertanyaan-pertanyaan janggal di dalam tes tersebut.

Pertanyaan macam "sudah umur segini, kok, belum menikah?" hingga "salat subuhnya pakai qunut?" disebut muncul dalam tes itu.

Sejumlah pihak pun mengecam hal tersebut. Sebab, tidak hanya janggal, pertanyaan-pertanyaan itu dinilai sudah masuk ranah pribadi seseorang. Alhasil, anggapan bahwa TWK menjadi alat untuk menyingkirkan pihak tertentu pun bermunculan.

Jauh sebelum adanya TWK, pegawai KPK sudah pernah melewati seleksi super ketat bernama Indonesia Memanggil. Seperti apa tesnya?

Indonesia Memanggil: Seleksi Super Ketat Menjadi Pegawai KPK, Jauh Sebelum TWK (1)
Mantan Kabag Pemberitaan KPK Priharsa Nugraha Foto: Wahyuni Sahara/kumparan

Mantan Kepala Bagian Pemberitaan dan Publikasi KPK Priharsa Nugraha menjadi bagian dari seleksi Indonesia Memanggil II pada 2007.

Indonesia Memanggil I yang menjadi gelombang pertama pegawai KPK digelar pada 2005. Johan Budi Sapto Pribowo merupakan salah satu jebolan IM I.

"IM (Indonesia Memanggil) II tahun 2007," kata Priharsa Nugraha soal seleksi yang dia ikuti.

Menurut dia, ada sejumlah tes yang dijalaninya dalam seleksi tersebut. Mulai dari tes administrasi, psikotes, hingga kompetensi. Tahap terakhir dalam tes tersebut adalah wawancara.

Priharsa menyebut pada saat seleksi IM II itu, ada 70 orang yang lulus untuk menempati sejumlah posisi di KPK.

Dikutip dari situs KPK, proses seleksi menggunakan konsultan independen (pihak ke-3) sebagai pelaksana. Rekrutmen di KPK dari berbagai disiplin ilmu, yang disesuaikan dengan kebutuhan organisasi.

"Pake konsultan. Daya Makara UI," kata Priharsa soal pihak yang melakukan seleksi IM II.

Indonesia Memanggil: Seleksi Super Ketat Menjadi Pegawai KPK, Jauh Sebelum TWK (2)
Kepala Biro Hubungan Masyarakat Febri Diansyah mengangkat kartu identitas pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) usai menyampaikan pengunduran dirinya sebagai pegawai dari lembaga anti korupsi tersebut di gedung KPK, Kamis (24/9). Foto: Muhammad Adimaja/ANTARA FOTO

Hal yang sama diungkapkan mantan juru bicara KPK Febri Diansyah. Ia menjadi bagian Indonesia Memanggil 7 Tahun 2013.

"Sekitar tahun 2013 bersama 159 pegawai lainnya," kata Febri dalam akun Twitternya. Ia mengizinkan kumparan untuk mengutip cuitannya tersebut.

"Seluruh tes sebelum tahap wawancara unit kerja dilakukan oleh konsultan Independen yang berpengalaman melakukan tes serupa untuk sejumlah lembaga negara/swasta," ungkap dia.

Senada dengan Priharsa, Febri menyebut ada beberapa tahap dalam seleksi tersebut.

  • Tahap 1, seleksi administrasi

Menurut Febri, dalam tahap ini ada beberapa pertanyaan awal tentang pondasi-pondasi Integritas dan motivasi masuk KPK.

  • Tahap 2, tes potensi

Febri menyebut tes ini dilakukan seharian penuh. "Kalau melihat tes masuk PNS, ada beberapa soal yang mirip. Tapi saya merasakan tesnya sangat berat hari itu. Selain menguji potensi IQ, juga kesabaran dan konsistensi," ujar dia.

  • Tahap 3, tes kompetensi

Tes ini disesuaikan bidang masing-masing dan pengetahuan umum tentang berbangsa dan bernegara, hukum, dan pemberantasan korupsi. "Karena saya melamar sebagai Penyelidik, ada juga pertanyaan tentang audit," ujar Febri.

Menurut dia, dalam tahap ini juga ada wawancara dengan konsultan. Ia menyebut ada sejumlah hal yang ditanya mendalam terkait integritas dan independensi.

"Termasuk pertanyaan, apa yang akan anda lakukan jika tahu atasan salah. Saya jawab, saya akan ingatkan dengan cara yang tepat," ujar Febri.

Selain itu, ia juga ditanya bagaimana menghadapi situasi ketika harus memilih kepentingan pribadi dengan kepentingan pelaksanaan tugas. Hingga terkait kepemimpinan tim dan pengambilan keputusan.

"Saya memahami, ini pertanyaan sangat penting karena terkait aspek kepemimpinan dan konflik kepentingan," kata dia.

  • Tahap 4 tes bahasa Inggris

Selain tersebut di atas, Febri juga menyebut ada pula sesi Leaderless Group Discussion membahas tentang nilai-nilai dasar antikorupsi seperti kejujuran. Serta bagaimana membangun prinsip antikorupsi dalam kehidupan masyarakat hingga bernegara.

Indonesia Memanggil: Seleksi Super Ketat Menjadi Pegawai KPK, Jauh Sebelum TWK (3)
Ilustrasi KPK. Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan

Sementara tes terakhir ialah tes kesehatan. Setelah seluruh tahapan dilalui, yang lolos seleksi dipanggil wawancara dengan unit kerja.

"Calon pegawai yang lolos tahap wawancara unit kerja ini berarti telah memenuhi kompetensi dasar. Tinggal kecocokan dengan pelaksanaan tugas unit masing-masing," kata Febri.

"Pada fase wawancara inilah digali sedemikian rupa kemampuan dan latar belakang. Sebelumnya, KPK menerjunkan tim profiling masing-masing calon," imbuh dia.

Indonesia Memanggil: Seleksi Super Ketat Menjadi Pegawai KPK, Jauh Sebelum TWK (4)
Kepala Biro Hubungan Masyarakat Febri Diansyah mengangkat kartu identitas pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) usai menyampaikan pengunduran dirinya sebagai pegawai dari lembaga anti korupsi tersebut di gedung KPK, Kamis (24/9). Foto: Muhammad Adimaja/ANTARA FOTO

Menurut Febri, ia menjalani seleksi hampir 6 bulan. Yakni dari Mei 2013 hingga mulai masa pendidikan pada November 2013.

"Proses yang dilalui cukup panjang dan saringan yang sangat ketat," kata dia.

Saat ini, Febri Diansyah sudah mundur dari KPK. Ia mundur sejak akhir 2020 lalu. Menurutnya, kondisi politik dan hukum yang berubah di KPK menjadi salah satu alasan dasar yang membuatnya mundur. Ia kini tergabung dalam firma Hukum Visi Integritas.