UNIKOLOGI.COM, Mataram: Salah satu tradisi sebagian masyarakat suku Sasak pada bulan Ramadhan adalah Acara Maleman yang dilaksanakan pada malam ke 21, 23, 25, dan 29 atau Sanga. Tradisi maleman masyarakat suku Sasak yang beragama islam merupakan tradisi turun temurun.

Menurut Tokoh Agama yang memiliki kepedulian tinggi terhadap budaya TGH. Muhammad Subki Sasaki, tradisi maleman tidak terlepas dengan perkembangan agama Islam di Lombok.

"Tradisi ini sebagai sebuah simbol pesan dari para penyebar islam pada masa lampau," katanya, Minggu (2/5/2021).

Ia mengakui bahwa makna yang terkandung didalamnya adalah menyambut malam Lailatul  Qadar dengan cahaya dalam suasana penuh suka cita. Terkandung harapan, mendapatkan keberkahan dari Allah SWT.

"Meleman ini juga sebagai upaya menyambut datangnya malam Lailatul Qadar," sebutnya.

Malam lailatul qadar adalah malam yang sangat istimewa. Malam lailatul qadar berbeda dengan malam-malam lainnya karena memiliki  keistimewaan. Berdasarkan Alquran nilai malam lailatul qadar sama dengan 1.000 bulan lebih.

Jika 1.000 bulan dikonversi ke dalam tahun maka menjadi 83 tahun. Jadi nilai malam lailatul qadar itu, sama dengan 83 tahun.