Ilustrasi Covid-19
Ilustrasi Covid-19

UNIKOLOGI.COM, KUALA LUMPUR – Malaysia mendeteksi kasus pertama varian Covid-19 asal India atau dikenal dengan istilah B.1.617. Kasus itu ditemukan beberapa hari setelah Kuala Lumpur memberlakukan larangan perjalanan dari negara tersebut.

“Kami mengimbau masyarakat untuk tetap tenang. Semua upaya kesehatan masyarakat akan terus dilakukan guna memutus mata rantai penularan dan menjamin keamanan masyarakat,” kata Menteri Kesehatan Malaysia Adham Baba saat mengumumkan penemuan kasus pertama B.1.617 pada Ahad (2/5).

Dia mengungkapkan varian tersebut terdeteksi pada warga India yang diperiksa di Bandara Internasional Kuala Lumpur. Namun, Adham tak menjelaskan kapan peristiwa itu terjadi.

Para ilmuwan yang tergabung dalam Indian SARS-CoV-2 Genetics Consortium (INSACOG) mengatakan telah menemukan lebih banyak mutasi Covid-19 di negara tersebut. Mereka menilai, hal itu perlu dilacak dengan cermat.

“Kami melihat beberapa mutasi (Covid-19) muncul pada beberapa sampel yang mungkin dapat menghindari respons kekebalan,” kata Ketua INSACOG Shahid Jameel saat diwawancara Reuters, Sabtu (1/5). Jameel adalah seorang virolog ternama India.

Dia menjelaskan, virus-virus tersebut mesti dibiakkan dan diuji di laboratorium guna memastikan. “Saat ini, tidak ada alasan untuk percaya bahwa mereka berkembang atau apakah mereka bisa berbahaya, tapi kami menandainya sehingga kami bisa mengawasinya,” ucap Jameel.

INSACOG adalah sebuah forum penasihat ilmiah yang dibentuk Pemerintah India. INSACOG menyatukan 10 laboratorium penelitian nasional. WHO telah mencantumkan B.1.617, yang menghitung beberapa sub-garis keturunan dengan mutasi dan karakteristik sedikit berbeda, sebagai "variant of interest". Namun sejauh ini, WHO tidak lagi menyatakannya sebagai "variant of concern”. Label itu menunjukkan bahwa varian baru terkait lebih berbahaya daripada versi asli virus. Misalnya, karena lebih menular, mematikan, atau memiliki resistansi terhadap vaksin.

Mutasi Covid-19 yang sudah dilabeli variant of concern oleh WHO antara lain yang pertama kali terdeteksi di Inggris, Brasil, dan Afrika Selatan.