Manusia Ngepet

Menepuk air cuci muka babi ngepet di dulang, tepercik air muka sendiri.

SAMBIL menunggu kepulangan Tingting Bocah, Pendekar Sastrajendra yang sudah mundur dari dunia persilatan bekerja serabutan lumrahnya manusia-manusia non persilatan zaman itu. Dia gemburkan tanah ladang. Diairinya sawah-sawah. Terlibat pula ia berbincang-bincang ngalor-ngidul di gardu ronda, satu hal yang jadi pantangan semasa kependekarannya dahulu.

Kenapa pantang? Pendekar harus fokus! Ngobrol ngalor-ngidul, misal dari soal perahu yang tenggelam sampai babi ngepet? Pamali, kata orang Sunda. Ndak ilok, kalau dalam bahasa Jawa. Apalagi kalau sambil menyandar tiang gardu, di antara rembulan dan suara derik tonggeret, di sana sini masih ditambahi bumbu: perahu tenggelam, rakyat saweran untuk beli penggantinya, kok, tak ada satu pun petinggi mundur; kok, orang lebih sibuk dengan babi ngepet ketimbang manusia ngepet?

Wah, itu semakin Ndak Ilok bin Pamali. Eh, Ndak Ilok binti Pamali, ding, sebab Ilok mendekati Elok, nama perempuan yang semusim dengan Sri, Atun, Dumilah, dan lain-lain sebelum gadis-gadis dusun tertimbun trending nama-nama perempuan manca seperti Bella, Cassandra, Esmeralda, dan sebagainya.

Lantas, soal manusia ngepet, itu apa?

***

Di gardu ronda bawah pohon akasia tempat Pendekar Sastrajendra sering nimbrung, tepatnya samping sungai kebiruan, manusia ngepet diartikan sebagai manusia yang perannya untuk memperkaya seseorang. Sebelas-dua belas dengan babi ngepet. Dia bisa berarti kaki tangan pemimpin. Kaki pemimpin tak kotor. Apalagi tangannya. Rakyat suka sekali mencium tangan pemimpin yang penampakannya bisa manis, santun, dan baik hati begitu. Pemalakan dan penginjakan jempol kaki orang-orang dilaksanakan oleh centeng-centengnya. Centeng itulah manusia ngepet.

Bisa juga babi ngepet adalah wong cilik yang diparut tenaganya melalui upah kecil dan parutan serta ulekan lainnya. Jadi, babi ngepet bukan hewan. Dengan kata lain, babi ngepet adalah…

Wah, tadi kita, kan, mau mengisahkan Pendekar Sastrajendra dalam episode penantian akan putri angkatnya, ya? Kok, malah ngobrol ke sana kemari mirip di gardu ronda?

***

Seperti telah diceritakan, Pendekar Sastrajendra sudah mundur dari dunia persilatan. Harusnya gelar ”Pendekar” di depannya kita hapus. Problemnya, kalau kita hapus, nanti dikira nyindir orang-orang di zamanmu yang bahkan masih tak menghapus gelar akademisnya walau di luar forum akademis. Misalnya di kartu undangan nikah yang babar blas tak ada sangkut pautnya dengan dunia ilmiah. Di nisan-nisan pun.

Lagi pula, ”Sastrajendra” nama yang terlalu pendek. Dipajangi gelar di depan atau belakangnya lebih jos. Kecuali kalau namanya sudah cukup berlarut-larut. Contoh, namanya Sastrajendra Berencana Membangun Wisata Mistis Seperti Pembibitan Babi Ngepet Dan Sebagainya Buat Milenial Sehingga Bill Gates Maupun Ellon Musk Membatalkan Segala Proyek Teknologisnya Serta Tanam Uang Untuk Tamasya Klenik Melalui Menteri Investasi…

Nama yang sepanjang babi ngepet berlari itu sudah tak butuh lagi tambahan segala gelar, baik gelar dari dunia akademis maupun gelar dari dunia persilatan.

Sebagai manusia non persilatan, mantan pendekar yang menyamar dengan nama Jendral Astras ini warung kambing bakarnya sangat kondang sepulau itu (waktu itu belum ada sate). Dagingnya tidak prengus. Padahal tanpa dibungkus daun jati maupun daun pepaya. Seluruh warga pulau ketagihan kambing bakar Jendral Astras.

Pulau mulai curiga. Jangan-jangan si bangkotan ini orang sakti.

Untuk meredam desas-desus, Jendral Astras buka-bukaan resep. Ia paparkan resepnya di alun-alun. Intinya dua. Pertama, parang harus amat sangat tajam. Kedua, penyembelihan harus dilakukan tepat sesaat kambing mengembuskan napasnya, bukan sesaat setelah menarik napasnya.

Dengan resep yang telah dibocorkannya sendiri itu kini banyak bakul kambing bakar di pulau yang berpenghasilan utama cengkih tersebut. Dagingnya nirprengus. Rasa pun siapa takut. Anehnya, tetap saja duyunan orang-orang hanya ke kambing bakar Jendral Astras.

Manusia-manusia ngepet alias centeng dan preman seorang mafia cengkih yang merangkap bakul kambing bakar dikirim ke lapo Jendral Astras. Ini demi bangsanya iri, dengki, syirik, dan sebangsanya. Astras menerka sekelebat, orang kekar-kekar itu sekitar 30 rupa. Bersenjata pula. Hmmm… Jendral Astras meladeni mereka dan (pasti) unggul, akan ketahuan kedok penyamarannya. Tak meladeni, modyar.

Bagaimana mantan kekasih Tingting Jahe itu menghadapi buah simalakama ini? Nanti kisahku akan sampai ke sana.

***

Sementara itu, di reruntuhan Gua Hantu, runtuh lantaran amuk alihan Pendekar Bra yang sejatinya ngamuk ke Tingting Jahe atas penyembunyian infonya tentang Tingting Bocah, putri angkat Pendekar Sastrajendra. Jahe masih pingsan ditancapi puing-puing gua. Bra diam-diam, sambil mengobati kekasihnya itu, penasaran akan jurus pencerminan yang diakui Bocah diserapnya dari Sastrajendra: Jurus Kaca Wirangi, jurus yang langsung bisa menyesap segala jurus musuh seperti hukum pencerminan.

Pendekar muda kelak mirip pebola Ibrahimovic yang akan menantang tarung Sastrajendra itu memendam kepenasarannya. Ia akan menahan bertanya pada Bocah sampai Jahe siuman. (*)

SUJIWO TEJO

Tinggal di Twitter @sudjiwotedjo dan Instagram @president_jancukers

Saksikan video menarik berikut ini: