Myanmar Abaikan Konsensus KTT ASEAN, 7 Demonstran Tewas Ditembak
Massa bergabung dalam unjuk rasa menentang kudeta militer dan menuntut pembebasan pemimpin terpilih Aung San Suu Kyi, di Yangon, Myanmar, Selasa (9/2). Foto: Stringer/REUTERS

Pasukan keamanan Myanmar melepaskan tembakan ke arah demonstran yang menolak kudeta militer. Dari sumber media lokal Myanmar yang dihimpun Reuters, demonstrasi menelan korban jiwa sebanyak 7 orang.

Demonstrasi kali ini menggandeng komunitas ekspatriat di seluruh dunia untuk menandai revolusi Myanmar. Awalnya, demonstrasi berjalan damai.

"Guncang dunia dengan suara persatuan rakyat Myanmar," kata penyelenggara demonstrasi dalam sebuah pernyataan dilansir Reuters.

Demonstran, dipimpin oleh biksu Buddha, melakukan long march melalui kota-kota, termasuk pusat komersial Yangon dan Mandalay.

Namun, kantor berita Mizzima melaporkan, ada dua orang ditembak dan dibunuh. Situs berita Irrawaddy sebelumnya juga memposting foto seorang petugas keamanan berpakaian preman membidik dengan senapan di Mandalay.

Myanmar Abaikan Konsensus KTT ASEAN, 7 Demonstran Tewas Ditembak (1)
Demonstran melakukan kerusuhan terhadap polisi saat mereka memprotes kudeta militer dan menuntut pembebasan pemimpin terpilih Aung San Suu Kyi, di Mandalay, Myanmar, Selasa (9/2). Foto: Stringer/REUTERS

Selanjutnya, dua orang dilaporkan tewas di pusat kota Wetlet, berdasarkan laporan kantor berita Myanmar Now. Sementara dua orang lainnya tewas di berbagai kota di Negara Bagian Shan di timur laut, dua media melaporkan. Satu orang juga tewas di kota pertambangan Hpakant, tulis laporan Grup Berita Kachin.

Sehingga total ada 7 orang yang dilaporkan tewas.

Reuters tidak dapat memverifikasi laporan tersebut. Belum ada konfirmasi dari juru bicara junta militer Myanmar.

Sementara Media Khit Thit melaporkan ledakan di luar pos polisi di Yangon terjadi pada Minggu pagi. Kendaraan terbakar, tetapi tidak diketahui apakah ada korban.

Kemudian, dilaporkan ada ledakan lain di kota itu. Sebuah portal berita di Negara Bagian Shan menyebut, ledakan terjadi di luar rumah seorang pengusaha terkemuka.

Penyiar buletin berita yang dikelola pemerintah memberikan rincian setidaknya ada 11 ledakan selama 36 jam, sebagian besar di Yangon.

"Beberapa perusuh yang tidak menginginkan stabilitas negara telah melemparkan dan menanam bom buatan tangan di gedung-gedung pemerintah dan di jalan umum," kata penyiar itu.

Kelompok advokasi Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik mengatakan, pasukan keamanan telah menewaskan sedikitnya 759 pengunjuk rasa sejak kudeta.

Protes dan kampanye pembangkangan sipil telah melumpuhkan ekonomi dan meningkatkan kemungkinan 25 juta orang jatuh ke jurang kemiskinan.

Militer di bawah Panglima Myanmar, Jenderal Min Aung Hlaing, merebut kekuasaan pemimpin de facto, Aung San Suu Kyi. Militer menilai kemenengan partai Suu Kyi dalam Pemilu 2020 sarat kecurangan.

Militer telah menahan Suu Kyi bersama anggota partainya. Kini, militer mengumumkan pemerintahan darurat di bawah kepemimpinan Jenderal Min.

KTT ASEAN di Jakarta yang dihadiri Jenderal Min sudah mendesak Myanmar lewat lima konsensus. Dalam usulannya, Presiden Jokowi dan negara-negara Asia Tenggara meminta Myanmar menghentikan segala bentuk kekerasan.

Namun dalam laporan media lokal hari ini, korban jiwa masih berjatuhan.