Polisi Brasil menggerebek kampung narkoba di Rio de Janeiro, Kamis (6/5/2021). (Foto: Reuters)
Polisi Brasil menggerebek kampung narkoba di Rio de Janeiro, Kamis (6/5/2021). (Foto: Reuters)

RIO DE JANEIRO, iNews.id – Sedikitnya 25 orang tewas dalam baku tembak antara tersangka pengedar narkoba dan polisi di Negara Bagian Rio de Janeiro, Brasil, Kamis (6/5/2021). Insiden itu menjadi salah satu operasi polisi paling mematikan di wilayah itu.

Reuters melaporkan, orang-orang yang menjadi sasaran dalam penggerebekan aparat di lingkungan miskin Jacarezinho itu mencoba melarikan diri melintasi atap bangunan ketika polisi tiba dengan kendaraan lapis baja dan helikopter. Kemudian terjadilah baku tembak antara kedua pihak, sehingga memaksa warga sekitar lokasi untuk berlindung di rumah masing-masing.

Orang-orang yang tewas terdiri atas satu polisi dan para tersangka anggota geng penyelundup narkoba yang mendominasi kehidupan di daerah kumuh tersebut. Beberapa pemimpin geng itu juga tewas.

Peluru yang ditembakkan selama baku tembak menghantam sebuah kereta ringan, melukai dua penumpang, kata petugas pemadam kebakaran setempat.

Penggerebekan itu tercatat sebagai operasi tunggal polisi paling mematikan dalam 16 tahun terakhir di Rio de Janeiro. Negara bagian itu telah menderita akibat kekerasan terkait narkoba di banyak daerah kumuh selama beberapa dekade ini.

Pertumpahan darah tersebut memicu kecaman dari kelompok hak asasi manusia, termasuk Amnesty International. Organisasi itu mengutuk polisi atas penghilangan nyawa orang dengan cara “tercela dan tidak dapat dibenarkan” di lingkungan yang sebagian besar dihuni oleh orang-orang kulit hitam dan rakyat miskin.

“Jumlah orang yang tewas dalam operasi polisi ini harus dicela. Adalah fakta bahwa, pembantaian ini sekali lagi terjadi di Favela,” kata Direktur Eksekutif Amnesty International Brasil, Jurema Werneck, dikutip Reuters, Jumat (7/5/2021).

Kata “Favela” di Brasil merujuk pada lingkungan yang dikelola oleh sekelompok orang secara informal dan minim pelayanan publik dari pemerintah.

Pada 2005, polisi juga menggerebek kawasan Baixada Fluminense di pinggiran utara Rio de Janeiro yang penuh kekerasan. Operasi kala itu menewaskan 29 orang.

“Hari ini menjadi salah satu korban tewas terbesar dalam operasi polisi di Rio, melebihi 19 orang (tewas) di kawasan kumuh Complexo do Alemão pada 2007. Bedanya, kami tidak kehilangan satu pun personel kami saat itu,” kata kepala kepolisian setempat, Ronaldo Oliveira.

Human Rights Watch (HRW) menyatakan. jaksa Rio de Janeiro memiliki kewajiban konstitusional untuk mengawasi polisi dan melakukan investigasi kriminal atas pelanggaran prosedur penindakan. Kelompok itu juga menyerukan penyelidikan menyeluruh dan independen atas kematian 25 orang dalam penggerebkan kali ini.

Menurut HRW, polisi Rio telah membunuh 453 orang dan setidaknya empat polisi tewas dalam berbagai operasi atau tindakan aparat selama tiga bulan pertama tahun ini.

Polisi mengatakan selain perdagangan narkoba, geng tersebut juga merampok truk kargo dan mengangkat kereta komuter untuk mencuri dari penumpang. Polisi memamerkan gudang senjata yang disita dari geng narkoba itu pada konferensi pers. Di dalam gudang itu terdapat enam senapan serbu, 15 pistol, satu senapan mesin, 14 granat, dan satu butir amunisi artileri.