Pandemi COVID-19: Tak Ada Jalan Kembali ke Keadaan Normal
Ilustrasi virus corona. Foto: Shutterstock

Virus tak tahu apa-apa, karena sama sekali tak berada dalam domain pengetahuan. Virus bukan musuh yang mencoba untuk menghancurkan kita. Ia hanya mereproduksi diri dengan otomatisme buta.

Tak ada jalan kembali ke keadaan normal. Normal dalam bentuk baru harus dibangun di atas reruntuhan kehidupan lama kita, atau kita akan mendapati diri kita dalam barbarisme baru, yang tanda-tandanya sudah jelas kelihatan.

Sekarang, kita semua berada di kapal yang sama.

Pandemi yang sedang berlangsung saat ini, memiliki makna lebih dalam: hukuman kejam, tapi cukup adil atas kemanusiaan, karena telah mengeksploitasi habis-habisan bentuk-bentuk kehidupan lain di bumi.

Pandemi virus corona dapat menyebar ke sekitar dua pertiga populasi dunia jika tidak dapat dikendalikan.

Orang-orang perlu memiliki keyakinan dan kepercayaan pada pemerintah mereka, sementara ketidakpastian wabah baru diteliti oleh komunitas ilmiah.

Dan tentu saja ketika kita menggunakan media sosial dan berita palsu maupun berita asli campur aduk jadi satu, lalu berbuah hilangnya kepercayaan, bagaimana kita bisa melawan pandemi?

Kita membutuhkan kepercayaan ekstra, rasa solidaritas ekstra, rasa itikad baik ekstra, yang semuanya telah sepenuhnya terkuras.

Ketika seorang pekerja medis sangat lelah karena bekerja lembur, ketika seorang pengasuh kelelahan dengan tuntunan kerja yang menekan, mereka lelah dengan cara berbeda dari kelelahan orang-orang yang didorong oleh obsesi memajukan karir.

Kelelahan mereka berfaedah.

Virus ideologis lain dan jauh lebih bermanfaat akan menyebar dan mudah-mudahan menulari kita: virus pemikiran masyarakat alternatif, masyarakat di luar negara bangsa, masyarakat yang mengaktualisasikam dirinya dalam bentuk solidaritas dan kerja sama global.

Epidemi virus telah mengingatkan kita tentang kemungkinan dan kebermaknaan hidup kita.

Tak peduli seberapa hebat bangunan spiritual yang umat manusia bangun, virus atau asteroid dapat mengakhiri semuanya.

Belum lagi pelajaran ekologi, bahwa kita umat manusia, juga dapat secara tak sadar berkontribusi pada kiamat ini.

Satu-satunya yang benar-benar malu, adalah mereka yang secara terbuka meremehkan pandemi sambil melindungi diri mereka sendiri, bertindak seperti para manajer papan atas yang secara terbuka menyangkal pemanasan global tetapi sudah membeli rumah di Slandia Baru atau membangun bungker untuk bertahan hidup di Pegunungan Rocky.

Kepanikan bukanlah cara yang tepat untuk menghadapi ancaman nyata.

Ketika kita bereaksi dengan panik, kita tak menganggap ancaman itu secara serius. Sebaliknya, kita meremehkannya.

Hal paling mengganggu yang dapat kita pelajari dari epidemi virus yang sedang terjadi: ketika alam menyerang kita lewat virus, caranya dengan melempar balik pesan yang kita buat sendiri.

Pesannya adalah: apa yang mereka (virus) lakukan kepada kita, sekarang kita lakukan kepada mereka.

Melalui upaya kita menyelamatkan umat manusia dari penghancuran diri, kita menciptakan umat manusia baru.

Hanya melalui ancaman fana inilah kita dapat membayangkan umat manusia yang bersatu.

Jika tak ada perubahan besar dalam realitas kita sehari-hari sekarang ini, maka ancaman itu hanya dirasakan sebagai fantasi spektral yang tak terlihat.

Kita telah belajar pada sebuah sejarah epidemi.

Kepanikan dalam menghadapi COVID-19 menunjukkan bahwa wabah ini tidak dianggap sebagai ancaman serius.

Panik adalah ancaman bagi pasar, karena kepanikan akan membunyikan lonceng kematian bagi imperium bisnis. Kepanikan akan membuat semua orang ketakutan melakukan aktivitas ekonomi, industri berhenti berproduksi karena tidak ada konsumsi, sedangkan para pebisnis berebut untuk menyelamatkan kekayaan karena takut akan dilenyapkan oleh krisis.

Sistem pasar benar-benar tidak siap menghadapi pandemik. Masyarakat madani atau masyarakat tanpa kelas adalah satu-satunya jalan untuk mencegah kehancuran dunia karena barbarisme sistem pasar ini.

Penulis: Syafaruddin Dg Usman, peminat kajian sejarah dan budaya di Kalbar