Petani Modern di Talaud Digenjot

MANADOPOST.JAWAPOS.COM – Sebagai bentuk tindak lanjut dari pelaksanaan program Pekarangan Pangan Lestari (P2L) di Talaud yang telah dimulai sejak April, Dinas Keatahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Kepulauan Talaud bersama tim Dinas Pangan Daerah (DPD) Provinsi Sulawesi Utara yang juga selaku tim teknis, melakukan monitoring dan pendampingan kepada 5 kelompok binaan yang bergerak dalam pemanfaatan lahan pekarangan di 5 tempat berbeda.

Dari informasi yang dirangkum, program P2L ini merupakan suatu kegiatan yang dikelola oleh Dinas Pangan Daerah Provinsi Sulut termasuk sumber pendanaan. Sementara DKPP dalam hal ini selaku tim teknis kabupaten dalam pengelolaan dan pendampingan kegiatan di lapangan.

Diketahui tim DKPP bersama UPTD Pengawasan Keamanan Pangan DPD Provinsi Sulut melakukan pengujian keamanan pangan segar asal tumbuhan disalah satu sentra penghasil sayur mayur dan rempah.

Pengujian atau yang disebut rapid test ini merupakan suatu kondisi dan upaya yang diperlukan sebagai bentuk pencegahan terhadap bahan pangan dari kontaminasi atau cemaran yang menggangu, merugikan dan membahayakan manusia sehingga aman untuk dikonsumsi.

Salah seorang petani di kecamatan Melonguane Timur Saul Oruh, merasa senang dan bangga karena hasil kebunnya mendapat kesempatan pengujian ini. “Saya sangat bangga dan merasa hasil keringat saya dihargai, setelah hasil pengujian menunjukkan semua produk kebun saya ini aman dan layak dikonsumsi,” katanya.

Sementara itu laporan Camat Essang Fretsly Ontorael menerangkan, jumlah kelompok tani yang dikukuhkan di wilayahnya sebanyak 51 Kelompok Tani, terdiri dari 2 kelompok tani naik ke kelas lanjut dan 49 kelompok tani sebagai kelas pemula. Giat pengukuhan dipusatkan di Balai Pertemuan Masyarakat (BPM) Desa Bulude dan dihadiri oleh 8 Kepala Desa se Kecamatan Essang.

Disisi lain, Bupati Kepulauan Talaud dr Elly Engelbert Lasut melalui Kepala Dinas Ketahanan pangan dan pertanian (DKPP) Drs Melksion Saweduling, saat membuka ruang diskusi dan sharing berharap agar kelompok tani terus kompak dalam menyukseskan tujuan bersama. “Pemerintah hanya memberi penguatan secara kelembagaan, akan tetapi kunci sukses ada di tangan petani bersama pengurus kelompok,” beber Saweduling.

Ia melanjutkan, tantangan globalisasi sekarang ini menuntut saat ini untuk merubah mindset atau cara berfikir, bahwa dunia pertanian kini telah berada di era post modern. “Jadikanlah pertanian itu berdampak bagi penghidupan pribadi dan keluarga petani. Jadilah petani modern, petani sekarang harus lebih cerdas dalam berusaha tani dan berorientasi pada keuntungan yang bakal diperoleh atau profit oriented, bukan hanya sekedar memenuhi kebutuhan konsumsi rumah tangga saja atau selesai dimakan,” pungkasnya.(cw-02/ewa)