KOMPAS.COM/GHINAN SALMAN
Putu Aribawa, pelaku pengumpat pengunjung lain di salah satu mal di Surabaya karena pakai masker ditangkap Satreskrim Polrestabes Surabaya, Selasa (4/5/2021).

SIAPGRAK.COM - Media sosial tengah ramai mengenai pelabelan "Duta Masker" dan "Duta Covid-19" pada dua orang yang melanggar protokol kesehatan.

Diketahui, seorang pemuda yang viral karena bertindak arogan dan mencopot masker yang dipakai pria, dinobatkan sebagai "Duta Masker" oleh warga setempat.

Adapun pilihan menjadi "Duta Masker" dilakoninya agar ia tidak menjalani proses hukum akibat tindakan arogan sebelumnya.

Selain itu, penobatan "Duta Covid-19" diberikan kepada Putu Aribawa, pria pengumpat pengunjung mal bermasker yang viral di media sosial.

Bahkan, Putu mengaku masih belum percaya dengan adanya virus corona atau Covid-19 yang saat ini tengah mewabah.

Pelabelan "Duta" ini menjadi kontroversi lantaran orang yang dinobatkannya merupakan pelanggar protokol kesehatan.

Lantas, bagaimana tanggapan pengamat soal viralnya embel-embel "Duta" bagi mereka yang tidak taat pada aturan?

Menanggapi hal itu, pengamat komunikasi politik dari Universitas Brawijaya, Anang Sudjoko mengatakan bahwa pelabelan "Duta" pada dua pelanggar protokol kesehatan dinilai sebagai bentuk-bentuk komunikasi pelabelan yang boros atau superficial communication.

"Pelabelan ini memang diharapkan mampu menjadi role model dalam mendorong kesadaran masyarakat untuk mematuhi prokes yakni bermasker," ujar Anang saat dihubungi Kompas.com, Kamis, (6/5/2021).

Menurut Anang, keefektifan pelabelan "Duta" ini ditunggu saja seberapa kuat energi penegak atau pemberi label ini.

"Padahal perilaku masyarakat Indonesia sudah bergeser ketaatannya terhadap pemerintah dalam hal penegakkan prokes," lanjut dia.

Kebijakan pemerintah

Anang menjelaskan, beberapa kebijakan pemerintah dan perilaku elit yang tidak konsisten terhadap prokeslah yang menjadi penyebab bergesernya ketaatan masyarakat.

Akibatnya, masyarakat tidak memiliki keteladanan kuat.

Bahkan masyarakat cenderung bingung dengan ketidak konsistenan yang ada, ditambah dengan lamanya pandemi yang belum jelas kapan berakhir.

Selain itu, Anang mengatakan, penobatan "Duta Masker" dan "Duta Covid-19" sebagai bentuk utnuk mendorong kesadaran orang tersebut.

"Ini kan mencoba untuk memberi sanksi moral saja dan bisa jadi bentuk frustasi ketidakberhasilan petugas/pemerintah dalam menegakkan prokes, serta cara memberi hukuman atas perilaku masyarakat yang abai," kata dia.

Pengingat publik

Di sisi lain, akademisi kebijakan publik Universitas Gadjah Mada (UGM) Gabriel Lele mengatakan, ada dua makna dari pemilihan "Duta" yang dilabelkan pada dua orang pelanggar prokes ini.

Dua makna tersebut, yakni:

1. Social humilation/penelanjangan sosial secara positif supaya yang bersangkutan kapok.

2. Mengingatkan publik bahwa kedua tokoh tersebut pernah melanggar dengan harapan masyarakat yang lain tidak ikut melanggar aturan pakai masker.

"Ini pola lama sebenarnya mbak. Intinya pemerintah ingin melibatkan para influencer untuk membentuk opini dan preferensi publik," ujar Gabriel saat dihubungi secara terpisah oleh Kompas.com, Kamis, (6/5/2021).

Ia menjelaskan, dari sisi publik, marketing ini biasa dan harus dilakukan, namun harus diikuti dengan evaluasi.

Sebab, apakah pelibatan influencer sebelumnya sudah terbukti efektif membentuk opini dan preferensi publik.

"Jika tanpa evaluasi, maka hal ini berpotensi merugikan negara," imbuh dia.

Hal lain, pemerintah perlu menentukan target audiensnya. Ini buat kalangan milenial atau orang tua.

"Jika buat kaum milenial mungkin bisa berjalan, namun tidak demikian dengan generasi tua," ujar Gabriel.

Menurutnya, dalam konteks Covid, pembentukan opini memang sangat perlu karena masih banyak yang memiliki persepsi keliru.

Misalnya terkait penggunaan masker di tempat ibadah.

"Jika sasarannya adalah kaum puritan, maka jangan menggunakan influencer dari kaum milenial tetapi "Duta Masker" justru harus diambil dari para tokoh agama dan tokoh masyarakat," katanya lagi.

Sementara, jika tokoh yang berbuat merupakan public figure, maka dimungkinkan ada efeknya bagi pencegahan protokol kesehatan.

Apabila dari orang biasa, maka bisa saja tindakan pelabelan "Duta" ini hanya sekadar lucu-lucuan saja.

"Dalam kasus baru-baru ini, pemuda yang memakai masker akan dipuji; namun yang mempersoalkan masker akan jadi olok-olokan," kata Gabriel.

"Substansi untuk tetap kembali tertib mengenakan masker bisa saja kalah oleh tampilan kedua tokoh yang bukan siapa-siapa ini," lanjut dia.

Kendati demikian, dengan penobatan "Duta Masker" dan "Duta Covid-19" dinilai efektif jika berhasil mengajak publik untuk mengingat peristiwa yang dilakukan dua orang itu, dan tidak melakukan hal serupa.

Penulis: Retia Kartika DewiEditor: Sari Hardiyanto